Translate

Selasa, 17 September 2024

Babad Tanah Jawi (137): Pangeran Purubaya dicopot dari kedudukannya lalu dibuang ke Sri Lanka

 Tidak lama setelah kejadian itu ada laporan ke Betawi. Gubernur Jenderal menanggapi dengan mengirim Surat kepada Sang Raja. Isi suratnya menyatakan kalau Pangeran Purubaya membuat susah orang Jawa. Bagaimana tindakan Sang Raja dalam menyelesaikan perkara ini, Kumpeni berserah sepenuhnya. Namun kalau Sang Raja tetap kukuh mempertahankan karena sangat besar kasih sayangnya kepada Pangeran Purubaya, maka pasti negeri akan menjadi rusak. Kalau terjadi seperti itu Sang Raja jangan lagi meminta pertolongan kepada Kumpeni. Demikian pernyataan Gubernur Jenderal dalam surat.

Sang Raja setelah membaca surat merasa seperti ditubruk macan meleset. Sangat bersedih hati Sang Raja. Surat sudah diberi balasan, bahwa akan dipikirkan dahulu tindakan yang tepat. Sang Raja sangat kerepotan hatinya. Sulit untuk memutus rasa sayang kepada Pangeran Purubaya. Sang Raja lalu pasrah karena mengingat jasa Kumpeni yang begitu besar. Kalau tetap mempertahankan Pangeran Purubaya pasti akan menimbulkan kerepotan bagi negara. Sang Raja kemudian memanggil Pangeran Purubaya secara diam-diam ke dalam istana. Tidak ada yang melihat pertemuan itu.

Sang Raja berkata, “Dinda, engkau diminta oleh Kumpeni. Kalau aku pertahankan maka pasti Gubernur Jenderal kecewa dan akan merepotkan. Aku punya siasat begini, aku minta engkau pergi jangan berada di kota Kartasura. Biar Kumpeni terkesan, aku akan membuangmu ke Sekararum. Semua milikmu aku jarah. Namun bawa dulu semua yang engkau sukai. Kita berlaku seperti ketika eyang Amangkurat berpura-pura membuang Untung Surapati dulu.”

Sang adik tertunduk menahan air mata. Sejenak kemudian Pangeran Purubaya berkata, “Seberapa kuat saya bisa menjalani derasnya hujan peluru Kumpeni. Mendiang paman paduka Sultan Balitar dahulu raja kaya raya dan punya banyak prajurit dan disertai prajurit hebat seperti Panembahan Purubaya, maka kuat menahan peluru Kumpeni. Mustahil saya mampu melakukan seperti itu.”

 Berkata Sang Raja, “Berbeda zaman dahulu dan sekarang Dinda. Dulu itu karena tidak ada izin dari raja. Sekarang engkau aku izinkan dan jika engkau mampu semua biaya aku tanggung.”

Pangeran Purubaya menyembah, “Baiklah, saya tidak menolak. Tapi seberapa kuat hamba bisa menjalani.”

Pangeran Purubaya sudah menyatakan kesanggupan, lalu diminta keluar istana. Patih Natakusuma dan Tirtawiguna sudah menghadap Sang Raja.

Berkata Sang Raja, “Hai Paman, bagaimana surat Gubernur Jenderal yang meminta Dinda Purubaya. Apa yang sebaiknya kita lakukan agar selamat.”

Berkata Patih Natakusuma, “Hamba berserah kepada paduka.”

Ki Patih lalu melemparkan pertanyaan kepada Tirtawiguna, “Bagaimaiana menurutmu?”

Sang Raja berkata, “Benar Tir, aku minta saranmu bagaimana baiknya.”

Tirtawiguna menyembah, “Persoalan ini sangat berat paduka. Kalau hendak menyelamatkan kancil bisa kehilangan gajah. Akan menimbulkan banyak kerepotan di belakang. Ibarat tetesan air menjadi pancuran. Adik paduka akan membuat negeri sempit. Perkiraan Belanda kelak akan membuat negeri semakin rusak.”

Sang Raja tertegun mendengar perkataan Tirtawiguna.

Ki Patih menyambung, “Kak Tirtawiguna, tidak ada pilihan yang lebih baikkah?”

Tirtawiguna berkata, “Ki Lurah, itu bila dikukuhi ibarat membela kelingking dengan kaki.”

Sang Raja berkata, “Tidak Paman Patih. Yang dikatakan si Tir itu benar. Ayo sekarang kita pasrah. Kita buang rasa kasih kita kepada yang sedikit dan lebih memilih untuk kepentingan orang banyak. Sayang kalau negeri menjadi rusak. Paman Patih Anda pasrahlah kepada tuhan.”

Raden Patih Natakusuma menyembah dan menyatakan kesiapan. Kedua punggawa sudah diizinkan keluar. Sang Raja kemudian memanggil Wirajaya. Setelah yang dipanggil menghadap, Wirajaya diperintahkan untuk menyampaikan amarah Sang Raja kepada Pangeran Purubaya. Wirajaya segera membawa para mantri bawahannya ke Kapurubayan. Pangeran Purubaya mendapat amarah dan dicopot dari jabatan wadana keparak kanan dan diusir dari negeri Kartasura. Tidak diizinkan lagi tinggal di kota. Pangeran Purubaya lalu ditempatkan di desa Sekararum, sebuah tanah perdikan yang dulu ditempati Panembahan Purubaya. Tempatnya di kaki gunung Merapi sebelah selatan. Luasnya tujuh puluh lima karya. Ketika mendapat amarah Sang Raja para warga Kapurubayan geger. Nama Pangeran Purubaya juga diambil, dan dikembalikan lagi menjadi Raden Purwakusuma.

Pangeran Purubaya atau sekarang bernama Raden Purwakusuma juga hanya disertai seorang kaliwon Raden Wirataruna, istrinya dan enam orang pembantu laki-laki. Sesampai di Sekararum ditempatkan di sebelah utara masjid. Selama berada di Sekararum Pangeran selalu tekun beribadah dan hidup prihatin. Tidurnya di halaman dan tidak lagi memikirkan keadaan negeri. Dia sudah melupakan pesan Sang Raja. Yang dipikirkan hanya mati.

Belakangan Raden Purwakusuma banyak dikunjungi para punggawanya dahulu. Sutayuda, Ki Mega dan Mas Konthing Gandakusuma datang berkunjung diam-diam. Mereka membujuk Raden Purwakusuma agar kembali mengangkat senjata seperti isyarat Sang Raja dulu.

“Abdi pasuka dari Banyumas, Mataram dan mancanagara menunggu-nunggu paduka segera memulai perlawanan. Para bupati yang durjana itu segera diperangi saja,” kata para mantan punggawa.

Raden Purwakusuma berkata, “Hai Paman Jayasamodra, Konting dan Mega, jangan memberi kesengsaraan di tanah Jawa. Itu perbuatan yang durhaka kepada negara. Sudah kehendak Tuhan, ketahuilah negeri di Jawa ini tinggal tiga tahun saja. Di tahun keempat akan terjadi perpecahan negeri. Perkiraanku sudah terlihat, tak dapat ditolak lagi kehendak Tuhan.”

Sementara itu di kota, yang menggantikan kedudukan Pangeran Purubaya sebagai wadana keparak kanan adalah Tumenggung Natayuda. Adapun yang menjadi wadana Bumija adalah Raden Mangkukusuma. Nama kecilnya dulu Raden Sukrama, masih saudara Ki Mangkuyuda dari ibu. Sudah diberi nama Tumenggung Mangkupraja dan menikah dengan putri keraton. Ki Patih telah mengirim utusan ke Semarang untuk memberi tahu Kumpeni. Duta yang diutus adalah Adipati Jayaningrat dan Adipati Citrasoma. Kumpeni segera memberi balasan. Kumendur Rektop Diansah mengatakan dalam surat bila desa Sekararun yang kini ditempati Raden Purwakusuma adalah desa besar yang tidak selayaknya dipakai untuk mengasingkan Pangeran Purubaya. Ibarat maling, sekarang Pangeran Purubaya sudah memegang gunting. Mudah baginya memulai kerusuhan. Ingatlah dulu  yang pernah dilakukan ayahnya mendiang Panembahan Purubaya yang telah membuat repot Kumpeni.

Sang Raja sangat kaget setelah membaca surat Kumendur. Sang Raja segera mengutus si Rajasanta untuk memindahkan Raden Purwakusuma ke Kademen. Sesampainya Rajasanta di Sekararum segera diberitahukan kepada Raden Purwakusuma agar berpindah ke Kademen, sebuah desa kecil yang sepi dan terpencil.

Di lain pihak Adipati Jayaningrat dan Adipati Citrasoma menggalang iuran dari para bupati pesisir dan panekarnya. Para bupati itu selama ini merasa takut dengan Pangeran Purubaya. Mereka khawatir bila Pangeran Purubaya masih berada di Jawa, tak urung akan membuat Sang Raja tergoda untuk memintakan ampun kepada Gubernur Jenderal. Mereka lalu mengumpulkan uang dan dikirim ke Betawi. Mereka minta uang itu dipakai untuk membuang Pangeran Purubaya ke seberang. Uang sudah terkumpul sepuluh ribu riyal dan segera dikirimkan ke Betawi.

Gubernur Jenderal segera menanggapi surat itu. Utusan segera dikirim ke Kartasura untuk membawa surat dari Gubernur. Sesampai di Kartasura utusan segera menghaturkan surat kepada Sang Raja. Setelah membaca surat Sang Raja sangat bersedih.

Pada saat Pangeran Purubaya dicopot dan dibuang ke Sekararum dahulu putra Sang Raja sedang sakit. Waktu Raden Purwakusuma berpindah dari Sekararum ke Kademen, putra Sang Raja juga masih sakit. Sekarang putra Sang Raja sudah sehat dan sudah diangkat sebagai pangeran adipati. Sang Raja kemudian mengirim utusan untuk memberitahukan kepada Raden Purwakusuma. Raden Purwakusuma dang sang istri merasa sangat gembira.

Sang Raja juga berkenan melaksanakan nazar setelah sang putra sembuh. Nazarnya adalah berpesiar ke Kapanasan dengan membawa sang putra. Nazar sudah dilaksanakan. Sang Raja lalu mengutus dua Raden Singaranu untuk memanggil Raden Purwakusuma dari Kademen. Setelah dibawa ke kota Raden Purwakusuma tidak boleh menghadap kepada Sang Raja dan langsung dibawa ke Loji. Raden Purwakusuma hanya bersama sang istri. Adapun para pembantunya dibawa ke Kapatihan. Dari Loji Raden Purwakusuma langsung dikirim ke Sri Lanka. Dari dua putra perempuannya hanya satu yang dibawa, Raden Ajeng Akik. Seorang putri bernama Raden Ajeng Ijo ditinggal di Kartasura. Hari pembuangan Raden Purwakusuma pada tanggal dua puluh tujuh bulan Jumadilakhir, tahun Dal. Peristiwa ini diperingati dengan sengkalan tahun: rasa nabi mantri gana[1].

Masih di tahun yang sama, Ki Penghulu terkena musibah. Seorang anaknya ditemukan masuk ke dalam istana untuk menemui kekasihnya. Si anak langsung dibunuh di sebelah timur Sitinggil. Mayatnya dikirim ke rumah Ki Penghulu. Sang Raja sangat marah dan memberikan hukuman. Ki Penghulu dipecat dan diusir dari kota. Pada hari Ahad pagi Ki Penghulu dan istri berangkat menuju tempat pembuangan di Ayah. Jabatan penghulu kemudian diisi oleh Ketib Anom. Patih Natakusuma dan para adipati sepakat karena Ki Ketib Anom masih kerabat Sang Raja. Terhitung cucu menantu dari penghulu di zaman Sunan Amangkurat dulu.


[1] Sengkalan: rasa nabi mantri gana


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/10/15/babad-tanah-jawi-137-pangeran-purubaya-dicopot-dari-kedudukannya-lalu-dibuang-ke-sri-lanka/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...