Translate

Minggu, 22 September 2024

Babad Tanah Jawi (98): Pangeran Adipati Puger beserta anak-istri mendapat amarah dari Sang Raja

 Sang Raja Amangkura III sudah mengirim surat ke Betawi memberi tahu kepada Gubernur Jenderal bahwa sang ayah wafat. Dan sekarang dirinya sebagai putra mahkota telah diangkat sebagai raja. Tak lama setelah bertahta Sang Raja mengembalikan istri dari Kapugeran, Raden Ayu Impun. Sang Raja melakukan itu karena hasutan Patih Sumabrata. Menurut Sumabrata ketika hendak manjadi raja dulu sang paman Pangeran Puger bermaksud menghalangi. Masih menurut Sumabrata Pangeran Puger diduga juga ingin menjadi raja. Sang Raja menurut saja perkataan Sumabrata. Sudah kehendak Tuhan bahwa Sang Raja melupakan pesan sang ayah agar selalu menghormati sang paman Adipati Puger.

Alkisah putra Kapugeran Raden Sudira atau nama dewasanya Raden Suryakusuma tidak mau pulang ke Kartasura. Dia tinggal di wilayah Mataram, di desa Ngentha-Entha. Raden Suryakusuma sudah mandiri dan menggelar barisan. Orang Kedu dan Pagelen sudah tunduk kepada sang raden. Juga orang-orang dari Gunung Kidul pun sudah tunduk.

Ketika itu Ratu Kencana masih berada di Imogiri untuk menunggui makam suaminya. Sang Ratu belum berkenan pulang ke Kartasura dan hendak berada di Imogiri sampai habis bekalnya. Mendadak Sang Ratu melihat orang-orang sekitar semua menuju Ngentha-Entha untuk mendukung Raden Suryakusuma. Melihat hal itu Sang Ratu segera pulang ke Kartasura dan melapor kepada Sang Raja bahwa Suryakusuma sekarang berdiri menjadi raja di Mataram. Mendengar laporan sang ibu Raja Amangkurat III sangat murka. Patih Sumabrata dipanggil ke istana.

Sang Raja berkata, “Sumabrata, bagaimana pendapatmu. Si Sudira sekarang mandiri di tanah Mataram, hendak menggeser keratonku. Aku menduga ini atas perintah orang tuanya. Kalau tidak dihasut si tua bangka aku kira takkan berani dia melawanku.”

Ki Sumabrata berkata, “Benar dugaan paduka.”

Sang Raja berkata, “Sumabrata, segeralah prajuritku siapkan semua di alun-alun. Paman Puger panggilah ke istana beserta anak, istri dan para pembantunya. Nanti kalau sudah sampai di Pancaniti lucutilah kerisnya dan kurunglah jangan ada yang tertinggal.”

Ki Patih menyembah dan segera keluar melaksanakan perintah. Pangeran Puger telah dipanggil dan sesampai di istana kerisnya diambil. Pangeran Puger tidak melawan, bersama para putra dan prajuritnya menyerahkan keris. Hanya tinggal Raden Antawirya yang belum mau menyerahkan kerisnya. Raden Antawirya sangat marah diperlakukan demikian. Terlihat matanya memerah dan napasnya tersengal menahan amarah. Patih Sumabrata sedikit miris, para punggawa menghindar semua.

Pangeran Puger berkata, “Anakku Antawirya, segera serahkan kerismu. Aku kutuk engkau kalau melawan raja.”

Raden Antawirya takut kepada sang ayah, dengan bercampur tangis segera menyerahkan keris. Ketika itu semua sudah dikurung di dalam pagar di balai pertemuan. Pangeran Puger, anak-istri dan lima belas lurah prajurit Kapugeran tidak boleh meninggalkan tempat itu. Keadaannya memprihatinkan dan membuat para punggawa yang melihat sangat bersedih.

Sang Raja segera memerintahkan pasukan Kartasura untuk menyerang Raden Suryakusuma di Mataram. Yang ditunjuk memimpin pasukan adalah Mangunrana dan punggawa Banyumas bernama Banyakwidhe.

Sementara itu di Mataram, Raden Suryakusuma telah menyiapkan pasukan. Pasukannya cukup besar, kira-kira dua puluh ribu prajurit dengan jumlah persenjataan  tiga ribu. Pakaiannya pun bagus-bagus seperti prajurit yang sudah terlatih. Raden Suryakusuma sudah mendengar kalau sang ayah dikurung di keraton. Pasukan Raden Suryakusuma sengaja menyongsong kedatangan pasukan Kartasura. Kedua pasukan bertemu di Gondang dan terjadilah pertempuran yang dahsyat.

Pasukan Kartasura langsung menyerbu dengan berondongan senapan. Pasukan Mataram karena kurang terlatih terdesak dan banyak yang tewas. Raden Suryakusuma bersikukuh melanjutkan peperangan, segera ke tengah medan pertempuran dan mengamuk. Pasukan Kartasura menembakinya dengan senapan, kudanya terluka. Dua pengasuhnya memegangi kuda dan membujuk Raden Suryakusuma agar mundur.

“Duh tuan, mari kita mundur. Pasukan kita sudah rusak, banyak yang tewas. Siapa lagi yang akan disuruh maju berperang,” bujuk kedua pengasuhnya.

Raden Suryakusuma merasa sangat sedih, lalu segera memutar kudanya dan memberi aba-aba mundur. Pasukan Suryakusuma terus ke barat menyeberangi sungai Progo. Di Babara Raden Suryakusuma berhenti menata barisan. Senapati Banyakwidhe segera mengirim utusan ke Kartasura untuk memberitahukan kepada Sang Raja Amangkurat bahwa musuh sudah diusir dari Mataram.

Di Kartasura, Sang Raja memanggil para punggawa dan Patih Sumabrata.

Sang Raja berkata, “Hai Patih, bagaimana pendapatmu. Saya merasa belum tenang jika penghalang ini belum mampus.”

Ki Patih Sumbrata menyembah, “Benar paduka. Tetapi siapa yang berani membunuh paman paduka. Sungguh semua prajurit takut mendapat kutukan.”

Ki Wiraguna menyambung, “Ki Lurah, pendapat saya seumpama orang minum tuak satu guci pasti akan mabuk. Tetapi kalau dibagi kepada orang banyak takkan terasa.”

Sang Raja tersenyum, “Benar katamu. Besok hari Kamis siapkan para punggawa. Mulailah.”

Ki Sumabrata menyembah. Belum selesai mereka berbincang mendadak datang utusan Mataram yang melaporkan bahwa Raden Suryakusuma telah berhasil dikalahkan dan diusir dari Mataram. Mereka sekarang lari ke barat dengan sisa pasukannya.

Sang Raja sangat suka mendengar berita ini, lalu berkata kepada utusan, “Engkau kembalilah, katakan kepada tuanmu untuk terus mengejar Suryakusuma. Kalau bisa segeralah ditangkap.”

Setelah Raden Suryakusuma dapat dikalahkan, Sang Raja untuk sementara luluh kemarahannya. Patih Sumabrata suatu ketika merayap mendekati pagar yang mengurung Pangeran Puger.

Patih Sumabrata berkata lirih, “Tanah Jawa ini pasti akan saya genggam. Saya jadikan hanya selebar daun kelor.”

Pangeran Adipati Puger kaget mendengar Ki Sumabrata bicara sendiri. Seketika Pangeran bersujud kepada Tuhan memohon petunjuk. Permintaannya diterima Tuhan. Setelah bangun sujud Pangeran berkata kepada salah satu prajurit yang melayaninya.

“Hai Wangsapati, engkau pergilah ke Pamasaran segera. Temuilah si Umar, seorang kerabatku. Katakan untuk membantu mendoakanku agar segera keluar dari kurungan ini. Aku melihat si Umar ini ketika bermunajat tadi. Dia terlihat membantuku di bawah pohon pisang dengan menggelar tikar bambu. Dia berdoa dengan doa yang panjang. Tanyakan maksud doanya itu. Engkau segera pergilah.”

Wangsapati segera berangkat ke Pamasaran dan sudah bertemu dengan Ki Umar.

Kepada Ki Umar Wangsapati menyampikan pesan dari Pangeran Puger, “Ki Umar saya diutus Gusti Pangeran Puger yang sedang dikurung di keraton. Permintaan Pangeran agar Anda membantu berdoa agar Pangeran Puger segera keluar dari kurungan.”

Ki Umar berkata, “Wangsapati, pulanglah segera. Katakan kepada Pangeran Puger agar tidak khawatir. Pangeran pasti segera menjadi raja di Kartasura.”

Wangsapati segera pamit kembali ke Kartasura dengan suka hati. Hasil pertemuan dengan Ki Umar sudah dilaporkan.

Tidak lama dari peristiwa itu Sang Raja sudah luluh kemarahannya. Pangeran Adipati Puger diampuni dan dilepaskan, tetapi disuruh pindah rumah ke Jetak. Pangeran Puger pasrah dan menurut segala perintah Sang Raja. Di tempat yang baru Pangeran Puger merasa sangat bersedih. Setiap malam selalu berdoa dan mengurangi tidur. Siangnya selalu mengurangi makan. Semua anggota keluarga masih merasa bersedih akibat hukuman kurungan yang menimpanya beberapa waktu lalu.

Suatu hari Sang Raja hendak membunyikan meriam pusaka Kyai Pamecut. Meriam sudah diberi bubuk mesiu dan peluru. Ketika dibunyikan orang-orang kaget karena peluru jatuh di Jetak, dekat kediaman Pangeran Puger. Hati sang pangeran semakin bersedih, apalagi ketika kedatangan dua punggawa andalan Kartasura, Adipati Sampang dan Adipati Surabaya.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/09/04/babad-tanah-jawi-98-pangeran-adipati-puger-beserta-anak-istri-mendapat-amarah-dari-sang-raja/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...